The Read-Aloud Handbook


Judul buku:The Read-Aloud Handbook
Penulis:Jim Trelease
Penerbit:Noura
Cetakan:Ke-3, Januari 2021
Tebal:360 halaman
ISBN:978-602-385-276-5

Membacakan nyaring (read-aloud) sama sekali bukan teknik mengajarkan membaca. Yang utama, membacakan nyaring mampu menanamkan kecintaan membaca sehingga membuat anak bergairah dalam belajar apa pun.

Dengan membacakan nyaring, Anda juga dapat:

  • Membangun kosakata anak
  • Membangkitkan rasa ingin tahu anak
  • Mengasosiasikan membaca dengan kebahagiaan
  • Meningkatkan kemampuan anak dalam membaca, menulis, berbicara, dan mendengar
  • Menjadikannya sebagai sumber informasi, imajinasi, dan sarana hiburan
  • Mempererat ikatan orangtua dengan anak

Cukup luangkan waktu 10 menit setiap hari, membacakan buku dengan nyaring pada anak, menjadikan anak seorang pembaca da pembelajar seumur hidup.

Selama lebih dari tiga dekade, melalui buku ini, Jim Trealease telah membantu jutaan orangtua, guru, dan anak di seluruh dunia. Kini, buku edisi terbarunya dilengkapi dengan hasilpenelitian termutakhir; termasuk pembelajaran digital yang sesuai dengan perkembangan teknologi saat ini.

“Saya jatuh hati pada ‘membacakan nyaring’ karena buku ini. Inilah buku yang menginspirasi saya untuk menyebarkan virus membacakan nyaring di seluruh Indonesia. Saya ingin semua anak mendapatkan manfaatnya yang luar biasa.”

  • Roosie Setiawan, penggiat read-aloud, penulis buku Membacakan Nyaring, founder Reading Bugs Indonesia

Tinggalkan komentar

Filed under Keterampilan, Koleksi buku

Photopreneurship Mendulang Dolar Melalui Foto


Judul buku:Photopreneurship Mendulang Dolar Melalui Foto
Penulis:M. Suyanto
Penerbit:Andi
Cetakan:Edisi I, 2017
Tebal:xii + 468 halaman
ISBN:978-979-29-6734-0

Buku Photopreneurship: Mendulan Dolar Melalui Foto memberikan gambaran cara membuat foto yang dapat dikomersilkan sehingga dapat mendulang dolar. Buku ini ditulis dengan pendekatan praktis yang disertai dengan gambar dan contoh foto dipotret sendiri yang subjeknya berasal dari berbagai Negara. Foto diambil menggunakan smartphone maupun kamera digital serta sumber dari shutterstock agar lebih mudah dipahami. Buku ini diharapkan dapat digunakan oleh para professional fotografi, para peminat dalam bidang fotografi, maupun yang masih dalam tahap belajar fotografi agar dapat menjadi fotografer professional dan dapat memasarkan foto hasil karya mereka.

Tinggalkan komentar

Filed under Keterampilan, Koleksi buku

Pengujian Sarana Perkeretaapian


Judul buku:Pengujian Sarana Perkeretaapian
Penulis:Hermanto Dwiatmoko
Penerbit:Kencana
Cetakan:Ke-1, Mei 2016
Tebal:xvi + 198 halaman
ISBN:978-602-0895-98-7

Moda transportasi kereta api telah diakui sebagai salah satu alternative yang lebih aman dan efisien bagia angkutan penumpang ataupun barang, terutama yang menggunakannya untuk perjalanan jauh atau sebagai sarana bepergian rutin. Pengakuan ini tidak berlebihan, sebab kereta api relative tidak terganggu oleh faktor-faktor yang menghambat kelancaran perjalanan, seperti kemacetan atau jalan yang rusak.

Mengingat buku-buku teknis di bidang perkeretaapian masih terbatas, maka kehadiran buku ini dapat menjadi referensi bagi para pemangku kepentingan (stakeholders) dan semua pihak yang terlibat di bidang transportasi kereta api. Buku ini memberikan pedoman sekaligus gambaran yang jelas tentang berbagai hal yang sangat vital bagi penyelenggaraan moda transportasi kereta api di tanah air. Dan, karena kandungannya yang cukup komprehensif, maka buku ini juga dapat digunakan untuk lingkungan perguruan tinggi atau pendidikan lainnya.

Tinggalkan komentar

Filed under Koleksi buku, Lain-lain

AKU, BUKU, DAN PERJALANAN BERADAPTASIKU


Buku merupakan teman sejati yang tak pernah mengkhianati pembaca setianya. Buku menjadi pelipur lara di kala duka, buku menjadi pembangkit semangat di kala hati penat, dan buku menjadi tempat curahan hati yang membisu di saat penulis membutuhkan ide-ide baru untuk  memeluk asa dan rasa dalam jelmaan ribuan kalimat yang bermakna. Buku ibarat lilin, meskipun bentuknya sangat mungil seperti lilin batang yang ditiup saat ulang tahun, mampu menerangi dan memberi setitik cahaya. Itulah arti buku bagi diriku.

Perkenalanku pertama dengan majalah terjadi sekitar tahun 1976-1977 di Sorowako, Sulawesi Selatan. Letaknya terpencil dikelilingi Pegunungan Verbeek, berada di tepi Danau Matano. Jarak ke ibukota kabupaten – Palopo, sekitar 4 jam dan kira-kira 12 jam perjalanan darat ke Ujung Pandang. Jika naik pesawat jenis twin otter dari Sorowako ke Ujung Pandang butuh waktu 1.5 jam.

Tinggal di komplek perumahan yang disediakan oleh perusahaan, rumah-rumah dibangun dalam bentuk rumah panggung. Ada komplek rumah yang lokasinya tidak jauh dari sungai kecil yang mengalir jernih setelah melewati semak-semak dan ilalang tinggi. Ada komplek yang belakang rumahnya berbatasan langsung dengan hutan.

Di sana ada dua pasar tradisional dan dua komplek pertokoan yang masing-masing lokasinya terpisah. Toko yang ada menyediakan barang-barang kebutuhan sederhana, tidak seperti toko di kota yang barangnya serba ada. Hanya ada satu toko yang menjual majalah Bobo, selain menjual barang kebutuhan sehari-hari.

Ayah membelikan majalah Bobo secara teratur di toko itu. Tiap kali majalah anak-anak itu terbit, Ibu datang ke toko mengambilnya. Aku memperoleh majalah itu beberapa hari dari tanggal terbitnya karena toko itu membelinya di Ujung Pandang, sedangkan sarana transportasi saat itu masih sangat terbatas. Oya, mengapa ayah menjejaliku dengan majalah? Supaya aku rajin membaca! Karena nilai rapor kelas satu semester awal pada pelajaran membaca ditulis dengan tinta merah! Kok bisa? Keluargaku pindah dari Jakarta ke Sorowako dan aku belum pernah sekolah. Hanya satu bulan aku masuk sekolah TK di Sorowako, langsung loncat ke kelas 1 SD karena usiaku sudah 6 tahun.

Kami anak-anak komplek bisa membaca buku di perpustakaan sekolah. Buku-buku yang disediakan masih terbatas. Ruang perpustakaan dibagi dua, satu ruang berisi buku-buku berbahasa Indonesia dan ruang lain yang menyediakan buku-buku berbahasa Inggris. Di sana ada sekolah internasional untuk anak-anak karyawan yang asalnya dari berbagai negara. Selain membaca, hiburan kami bermain di halaman rumah yang luas, bermain di sungai mencari ikan dan tanah liat, membuat rumah pohon di hutan kecil, dan berenang di danau. Bergerak di alam bebas.

Hari yang selalu kutunggu ketika ayah memperoleh cuti yang diambil tiap libur kenaikan kelas. Cuti selama dua minggu yang digunakan untuk pulang ke Jawa dan keliling ke rumah saudara-saudara di Yogyakarta, Jakarta, Solo, Surabaya dan kota lain. Horeeee…! Mengapa aku gembira sekali? Karena aku boleh ke toko buku, dilepas sebebasnya dan memilih buku sesuai usiaku berapa pun banyaknya. Buku yang kubeli antara lain seri Lima Sekawan, Pasukan Mau Tahu, pokoknya buku-buku yang ditulis oleh pengarang kesukaanku: Enid Blyton. Beberapa buku lain seperti seri Sersan Grung-grung, seri Cerita dari Lima Benua, dan beberapa buku lain yang masuk dalam lini Kancil yang diterbitkan Gramedia (jauh sebelum menjadi Gramedia Pustaka Utama). Ada catatan yang harus kupatuhi: sedapat mungkin jumlah buku tidak melebihi berat bagasi yang sudah ditentukan maskapai penerbangan. Tentu saja, koper kami sudah berjejalan dengan barang-barang lain yang tidak bisa kami dapatkan di Sorowako. Jadi, buku-buku yang kubeli untuk bekal bacaan saat aku kembali ke desa sunyi nan sepi nan asri. Balik ke tengah hutan belantara di tanah coklat yang mengandung nikel.

Dari tahun ke tahun koleksi majalah dan buku makin menumpuk. Teman-teman sering meminjam majalah dan buku ke rumahku atau aku yang membawa ke sekolah. Ada yang kembali dalam keadaan mulus, ada yang kusut, bahkan yang membuatku sedih sebab buku tak kembali. Ketika tugas ayah di perusahaan itu sudah selesai hampir 20 tahun kemudian dan kami sekeluarga pindah ke Jawa, aku membawa seluruh koleksi majalah dan bukuku. Kurawat baik-baik koleksiku dan tetap menjadi teman setiaku hingga detik saat aku menulis kisah ini.

Kebiasaan membaca yang secara tidak langsung ditanamkan oleh ayah sejak kecil tak pernah surut hingga detik ini. Koleksi bukuku makin banyak. Aku menyebut diriku penimbun buku sejati karena sedikitnya kesempatan untuk membaca di sela kesibukanku bekerja. Beli buku ini itu yang menarik minat dan seleraku, akhirnya mereka tergeletak di sudut kamar atau dalam kardus, atau bila masih ada tempat akan tertata dalam rak bukuku. Oya, ayah sengaja menyediakan satu ruang khusus sebagai perpustakaan pribadiku. Sayangnya, aku masih pelit berbagi buku. Mohon maaf ya. Mungkin kelak hatiku tergerak untuk mendirikan taman bacaan atau menyumbangkan buku-bukuku bagi yang membutuhkan. Karena ‘penyakit’ beli-beli buku yang makin akut dan tak juga sembuh, aku hendak mencari rumah sakit bagi penderita ketergantungan buku. Hehe.

Kebiasaanku membaca akhirnya membawaku pada kegiatan tulis menulis. Padahal sejak sekolah, segala tugas yang berhubungan dengan tulis menulis seperti mengarang menjadi pelajaran yang tidak kusukai. Ketika aku hampir lulus SMA, guru bahasa Indonesia menyarankan aku masuk ke jurusan bahasa atau sastra. Aku menolak karena aku sudah punya cita-cita lain yang sejak kecil tidak pernah berubah dan aku tidak berminat pada jurusan yang disarankan. Ternyata beliau benar, sesungguhnya ibu guruku sudah melihat bakatku yang tersembunyi. Aku yang ngeyel.

Lulus kuliah, aku mulai suka menulis. Berawal dari filateli, hobi yang berkaitan dengan koleksi prangko dan benda-benda pos. Tahun 1997 aku mencoba membuat tulisan pendek, cerpen, dan puisi lalu kukirim ke majalah dan koran nasional. Hasilnya, ada yang dimuat, meskipun tak sedikit pula yang ditolak. Lama-lama aku terus menulis. Tema yang kutulis lebih luas dan tidak terbatas pada tema filateli.

Kegiatan rutin yang membuatku senang dan menyenangkan adalah pergi ke toko buku sekedar melihat deretan buku yang tertata rapi dalam rak. Bila ada buku yang menarik maka aku membelinya. Tapi, seperti yang sudah kusampaikan di atas, aku tak langsung membacanya. Buku itu bisa kuraih, kugenggam, dan kubuka lembar demi lembar halamannya setelah berbulan-bulan kemudian. Hehe. Oya, aku tak segan ke toko buku bekas. Biasanya aku membeli buku bekas untuk melengkapi koleksi buku ‘jadul’-ku yang belum lengkap. Aku pun bisa bebas berbincang-bincang dengan penjualnya.

Kegiatan itu berubah total saat Covid-19 masuk ke Indonesia. Gara-gara korona, aku ikut merana. Aku jarang ke toko buku, aku jarang ke toko buku bekas. Kegiatan beli-beli buku ikut berubah. Sebelum pandemi aku senang membeli buku langsung di toko buku. Sejak corona melanda aku harus melakukan kebiasaan baru cara membeli buku, yaitu melalui toko buku online. Jari-jemari menari di atas papan ketik laptop, bergerak lincah kian kemari menjelajah dari satu toko ke toko lain. Dan… payahnya aku sering lupa diri, tidak bisa mengendalikan menghentikan jariku menjelajah jauh ke toko buku maya. Aku sering tersasar di dalamnya! Rem blong! Apalagi aku punya kebiasaan mencatat judul buku yang kuinginkan! Tiap ada yang menarik, aku masukkan dalam daftar tersebut. Ah… entahlah, kapan aku bisa tobat buku!

Kapan aku bisa sembuh dari candu buku kalau begini caranya? Hihi…. Beruntung punya ayah dan ibu yang mendukung hobiku. Mereka sangat maklum. Pada tiap buku yang kubeli, ibuku selalu menulis namaku pada sudut kanan atas buku: Vita. Ditulis dengan huruf sambung khas tulisan tangan zaman dulu yang rapi dan cenderung miring. Itu dilakukan saat aku masih sekolah dasar. Kalian tahu apa yang terjadi bertahun-tahun kemudian ketika aku hidup mandiri? Aku bekerja di Jakarta. Orangtuaku tinggal di Malang. Hampir tiap tiga sampai empat bulan sekali aku mengirim paket buku yang beratnya belasan kilo dari Jakarta ke Malang. Aku khawatir buku yang kubeli memenuhi kamar kosku yang sempit bila ditumpuk terus. Tiap kali aku mendapat cuti dari kantor dan pulang ke Malang, hal pertama yang kudatangi adalah ruang perpustakaanku! Aku bisa melepas rasa rindu di sana. Kasihan juga melihat pemandangan bukuku. Lima rak buku sudah tidak muat. Banyak buku yang masih tersimpan dalam kardus-kardus.

Kembali ke soal toko buku maya. Beli buku baru dan bekas cukup duduk manis di depan laptopku. Ketik satu judul buku baru, muncullah toko-toko buku maya yang menjual buku tersebut. Dalam keadaan tidak malas aku bisa membuka satu persatu toko buku maya di lapak berbeda untuk membandingkan harga. Mencatat harga dari harga termurah sampai tertinggi. Memeriksa harga buku sesungguhnya pada penerbitnya. Memperhatikan deskripsi buku pada satu sampai empat toko buku maya. Harus melakukan percakapan pribadi dengan penjual buku dengan pertanyaan: apakah buku yang dijual asli? Jika tidak hati-hati, aku bisa membeli buku ‘aspal’ (asli tapi palsu) alias buku bajakan! Ada toko buku maya yang jujur dengan buku yang dijual: asli atau bajakan.

Mengapa ada toko yang menjual buku bajakan? Biasanya pembeli adalah mahasiswa atau orang yang butuh buku dengan harga murah tanpa memperhatikan keaslian dan mutu buku. Halo…, jangan beli buku bajakan ya. Kasihan penulisnya! Mereka sudah menguras pikiran dan tenaga membagi ilmu lewat tulisan, berjuang dan berdesakan dengan ratusan penulis lain agar naskahnya bisa diterima penerbit. Mereka berjuang demi kemajuan literasi buat bangsa ini, lho.

Beli buku bekas melalui toko buku maya jadi sering kulakukan. Syarat yang kuajukan kepada penjual semakin panjang dan aku harus melakukan percakapan pribadi dengannya. Pertanyaan yang kusampaikan: bagaimana kondisi buku secara umum, sampul buku mulus atau lecek, adakah lipatan dan coretan di lembaran halamannya,  adakah label buku pada punggung buku (umumnya bekas buku perpustakaan), dan kondisi warna kertas buku. Jika ada paraf pemilik buku terdahulu pada lembar awal, umumnya masih bisa kumaafkan. Jika kondisi buku kuning sedikit akibat buku sudah lama, tetap masih bisa kumaafkan. Jika dua syarat minimal itu tidak terpenuhi, lebih baik aku tidak membeli buku bekas. Aku berburu buku bekas yang kondisinya sesuai syarat yang kuajukan.

Ongkos kirim menjadi masalah besar ketika memutuskan membeli buku di dunia maya. Aku mengusahakan membeli buku di lokasi yang paling dekat dengan tempatku tinggal untuk menekan ongkos kirim. Itu pun ditambah dengan syarat seperti yang sudah diuraikan di atas. Hal yang menyusahkan ketika membeli banyak buku dengan beragam judul dan ketersediaan buku ada pada lebih dari satu toko. Misalnya, membeli lima buku pada toko buku maya yang berbeda. Masing-masing toko mengenakan ongkos kirim. Ongkos kirim menjadi pengeluaran yang patut menjadi pertimbangan juga pada akhirnya!

Enak dan untungnya membeli di toko buku maya adalah membiarkan jari berkelana sambil rebahan di kamar, nongkrong di kamar mandi, atau leha-leha di teras ditemani secangkir kopi panas dan kudapan. Selain itu, aku bisa membeli buku yang sudah tidak dipajang di toko buku konvensional dalam kondisi baru dan asli, artinya buku itu persediaan lama yang sudah dikeluarkan dari rak toko buku dan penerbit. Menanti pembeli yang berjodoh dengannya. Toko buku dalam genggaman hanya dengan sekali klik!

Tempat kos yang kutinggali tak jauh dari plasa. Di sana ada toko buku. Jalan kaki 15 menit aku bisa tiba di toko buku itu. Aku ingat, dua bulan berturut-turut menjelang penutupan tahun 2020 toko buku itu menawarkan potongan harga buku hingga 70%. Daftar buku dikirim melalui surat elektronik. Aduh, aku klepek-klepek. Hasrat membeli tak terbendung. Korban iming-iming rabat! Aku segera memilih buku yang kubeli, lalu kukirim daftar buku itu kepada layanan pelanggan toko buku itu. Dalam hal ini aku memesan dulu, sore hari ketika aku pulang kantor buku akan kubayar. Hehe. Takut bukunya keduluan dibeli orang lain.

Aku tak bisa menuliskan buku apa saja yang kubeli selama periode Juli 2020 hingga Maret 2021 karena cukup banyak. Beberapa buku yang diterbitkan Gramedia bisa kusebutkan, yaitu fiksi dan nonfiksi. Buku fiksi antara lain, Misteri Miranti – V. Lestari, Dikejar Bayang-bayang – Marga T., Misteri Terakhir buku 1, 2, dan 3 – S. Mara Gd., Tak Cukup Hanya Cinta _ Mira W., Cinta yang Biru – maria A. Sardjono, Petualangan di Pulau Seram – Enid Blyton (melengkapi koleksi dengan sampul baru yang kekinian unyu-unyu), Bambi – Felix Salten (buku yang pernah kubaca ketika di sekolah dasar tahun 1980-an akhirnya dicetak ulang), Perjamuan Khong Guan – Joko Pinurbo, Keluarga Cemara Buku Puisi – Rosi L. Simamora, dan sebagainya. Buku nonfiksi: Tesamoko Edisi Kedua – Eko Endarmoko, Kunci Berpikir Positif ala Napoleon Hill – Napoleon Hill & Michael J. Ritt, Jr., Jejak Rasa Nusantara – Fadly Rahman, Rijsttafel – Fadly Rahman, Yuk Membuat Ecoprint Motif Kain dari Daun dan Bunga – Nining Irianingsih, Kain Songket Labuan Bajo – Threes Amir & Samuel Wattimena, Kain Ulos Danau Toba – Threes Amir & Samuel Wattimena, Rumah di Tanah Rempah – Nurdiyansah Dalidjo, dan lain-lain.

Sejak dulu aku sudah mempunyai dua blog pribadi: tema filateli dan tema buku. Titip mendokumentasikan koleksi teraan cap pos dan buku-buku di situ. Khusus blog buku kuisi dengan mengunggah buku-buku yang kubeli yang menampilkan sampul buku dan data-data buku. Tidak ada ulasan buku di dalamnya karena aku tidak ikut barisan penulis resensi yang baik. Hehe. Di masa pandemi, banyak buku yang kuborong tiap bulannya. Tiap aku beli buku, sampul dan data buku langsung kuunggah dalam blog itu.

Saat aku melihat pada arsip blog, aku terkejut. Selama ini beli buku ini itu tanpa menghitung jumlah bukunya. Rata-rata pembelian tiap bulan di atas 15 buku yang terdiri atas buku yang diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama dan penerbit lain, mulai Agustus 2020 hingga Maret 2021. Arsip terakhir unggahan buku pada blog itu tercatat September 2019. Bulan-bulan berikutnya aku tidak ada kegiatan mengunggah karena fokus merawat ayah yang sakit di Malang. Arsip Juli 2020, buku-buku yang belum sempat kudokumentasikan dalam blog kuunggah. Jumlahnya ratusan. Sebagian besar merupakan koleksi buku semasa kecil. Juni 2020 merupakan bulan duka bagiku karena ayah meninggal. Hampir satu bulan aku berada di Malang sehingga aku punya banyak kesempatan mengunggah koleksi bukuku dan berlama-lama di ruang perpustakaan.

Selain diunggah di blog pribadi, aku mengunggah foto-foto koleksi buku yang cantik ke instagram. Namanya bookstagram. Dua hobi sekaligus dijalani dengan santai. Hobi jepret-jepret sampul buku di balik lensa kamera tersalurkan. Banyak mendapat teman sesama bookstagramer yang fotonya keren-keren dari dalam dan luar negeri. Banyak dapat teman dan pengetahuan di sana. Banyak penerbit berseliweran di sana. Lagi-lagi aku makin kecebur di media sosial perbukuan yang maha luas. Ppfff…

Saat kegiatan ke luar dibatasi, macam-macam undangan webinar wira-wiri di media sosial. Ada yang diselenggarakan tanpa mengeluarkan biaya, ada yang berbayar; ada yang mendapat e-sertifikat dan ada pula yang tidak. Untuk menambah pengetahuan dan keterampilan, aku tak segan mengikuti webinar dengan macam-macam tema. Webinar Arsip Jalur Rempah dan Poros Maritim Dunia yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kerja sama dengan Arsip Nasional Republik Indonesia; Avontur Daring Kelana Mamasa Sulawesi Barat oleh National Geographic Indonesia; Ngobrol Proses Kreatif Penulis PBK oleh Kompas Penerbit Buku tiap dua minggu sekali; Bincang Santai Susur Jalur Elok Non-aktif di Jawa Barat oleh Regional Surabaya Bandung dan Indonesian Railway Preservetion Society (IRPS); ikut kelas Strategi Menulis dan Meluluskan Buku Nonteks (Pengayaan) selama 2 hari yang diselenggarakan oleh Wong Indonesia Nulis (WIN), dan masih banyak lagi. Banyak webinar dengan tema menarik yang ingin kuikuti, tetapi sebagian besar waktu yang diselenggarakan bertepatan pada hari kerja. Kesempatan mengikuti acara secara langsung itu terlewat. Masih ada kesempatan untuk menyaksikan webinar sewaktu-waktu bila disiarkan melalui saluran yuotube.

Bulan-bulan awal pandemi di kala jalan sunyi, saat kantor ikut kena imbas karena pesanan jasa sepi, aku merenung. Apa yang akan kuperbuat? Aku masih menyimpan timbunan cerita pendek yang kutulis bertahun-tahun lalu. Aku mencari berkas kumpulan cerita pendek dari laptop. Tarara… akhirnya ketemu. Akhirnya kukirim cerpen itu ke salah satu penerbit indie. Lahirlah buku ketigaku pada Mei 2020. Tahun 2017 aku mengeluarkan buku tema filateli yang diterbitkan oleh penerbit indie. Isinya, kumpulan artikel tema filateli yang pernah dimuat surat kabar nasional dan majalah kurun waktu 1996-2011. Timbunan sajak ikut antre masuk ke penerbit indie dan masih dalam tahap penyuntingan. Semoga bisa segera terbit dalam waktu dekat. Oya, buku pertamaku lahir tahun 2013 dan diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama.

Satu naskah tema filateli hasil penelitianku melalui penelusuran pustaka dan koleksi benda-benda filateli yang kumiliki sudah mulai ditulis sejak 2018. Aku harus sabar mengumpulkan data yang kuperoleh dari seluruh Indonesia. Sedikit demi sedikit kutulis dalam naskah dan akhirnya pada pertengahan tahun 2020 tulisan itu bisa selesai. Kini, naskah itu masuk dalam tahap penyuntingan pada penerbit indie di Sidoarjo. Bocoran dari penyunting, naskah itu akan terbit dalam bentuk A4 dengan jumlah lebih dari 550 halaman! Menurut penyunting, buku hanya bisa dalam bentuk A4 karena menyangkut tabel-tabel yang banyak. Semoga kerja kerasku selama dua tahun menekuni tulisan tentang pos tidak sia-sia.

Selama pandemi ini justru ide-ide kecil muncul di kepala, rajin mondar-mandir. Tak sabar untuk segera ditumpahkan melalui tulisan. Cukup menulis satu, dua paragraf, paling banyak tiga paragraf. Awalnya aku bingung akan kutuangkan ke mana gagasan kecil tersebut. Hanya sekelumit receh gagasan dan sumbangan ide menyangkut pelayanan publik, pendapat, dan sebagainya. Sepanjang tahun 2020 hampir tiap bulan surat pembaca yang kukirim ke redaksi harian Kompas dimuat. Rabu, 8 Juli 2020 harian Kompas mengundang para penulis Surat Pembaca untuk bincang-bincang ringan secara daring melalui zoom.

Sebagai pembaca yang baik, penimbun buku yang rajin, dan penulis yang namanya masih setitik, akhirnya aku hanya bisa mengeluarkan unek-unek dan mencurahkan segenap isi hatiku melalui tulisan ini. Yang penting, jangan sampai penaku tergeletak. Menjaga jantung tetap berdetak mengiringi waktu yang berlalu. Menemani virus yang belum beranjak pergi. Menorehkan ujung pena dan papan ketik laptop untuk berkarya. Terus membaca dan terus menulis agar tidak pikun serta ikut menjadi bagian dalam dunia literasi.

Tinggalkan komentar

Filed under Goresan pena, Non Fiksi

Rumah di Tanah Rempah


Judul buku:Rumah di Tanah Rempah
Penulis:Nurdiyansah Dalidjo
Penerbit:PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan:2020
Tebal:466 halaman
ISBN:978-602-06-3967-3
ISBN Digital:978-602-06-3968-0

Rumah di Tanah Rempah merupakan rangkaian kisah perjalanan yang mengajak pembaca untuk mengenal Indonesia melampaui lintasan zaman melalui tradisi rempah. Cerita-cerita tak hanya disusun dari bermacam sumber literatur, melainkan pula obrolan dengan orang-orang yang ditemui dalam perjalanan sambil mencicip kesedapan rasa serta aroma di kebun rempah,kedai, warung kopi,pasar, dan dapur.

“Buku ini adalah Indonesia yang hidup dari kacamata pengelana kuliner. Demikianlah Indonesia, yang dibentuk oleh ragam interaksi sosial manusia dan alam. Sepatutnya buku ini dibaca kaum muda, agar lebih luwes memandang Indonesia masa lalu dan masa depan. Selamat untuk penulis yang telah bekerja keras menulis buku ini.”

Hilmar Farid, Ph.D., Dirjen Kebudayaan RI

“Buku ini memberikan kontribusi yang penting dan bermakna bagi pengetahuan kita tentang rempah-rempah Indonesia. Tulisan Nurdiyansah kaya dengan aroma dan rasa. Ia memiliki bakat besar dalam bercerita. Buku ini berisi ragam informasi sekaligus menghibur.”

Janet DeNeefe, Penulis serta Pendiri dan Direktur Ubud Food Festival

Tinggalkan komentar

Filed under Koleksi buku, Sosial & budaya

Jejak Peradaban Kemaritiman Pada Gambar Cadas Nusantara


Judul buku:Jejak Peradaban Kemaritiman Pada Gambar Cadas Nusantara
Penulis:R. Cecep Eka Permana; Jajang Gunawijaya; Ingrid He Pojoh
Penerbit:Wedatama Widya Sastra
Cetakan:Pertama, Desember 2019
Tebal:ix + 180 halaman
ISBN:978-602-273-037-8

Jejak budaya awal kehidupan kemaritiman Nusantara masa prasejarah terekam pada gambar-gambar cadas. Gambar-gambar prasejarah tersebut antara lain terdapat di wilayah Sulawesi Tenggara (Pulau Muna), dan Papua Barat (Misool dan Kaimana). Rentang waktu yang sangat panjang itu memungkinkan terjadinya dinamika yang luas terhadap sejarah-budaya kemaritiman Indonesia. Bentuk dan teknologi perahu serta cara-cara hidup masyarakat berlanjut dan berkembang secara dinamis; bahkan hingga sekarang peradaban kemaritiman dapat tetap tertelusuri jejaknya pada masyarakat nelayan tradisional di pesisir Nusantara. Buku ini dapat tersusun berkat dukungan dari Hibah Penelitian Unggulan Perguruan Tinggi (PUPT) DIKTI tahun 2017, 2018, dan 2019 berjudul “Jejak Peradaban Kemaritiman Nusantara: Kajian Etnoarkeologi pada Gambar Gua Prasejarah di Indonesia”.

Tinggalkan komentar

Filed under Koleksi buku, Sejarah

Sekelam Dendam Marisa – 2


Judul buku:Sekelam Dendam Marisa – 2
Penulis:Mira W.
Penerbit:Alam Budaya
Cetakan:Pertama,1991
Tebal:206 halaman
ISBN:

Paman Fandi tidak kembali seperti yang diharapkan Marisa. Dia menikah dengan Eka. Dan tinggal di Monikendam, sebuah desa yang cantik, beberapa kilometer di sebelah utara Amsterdam, tempat Eka menjalani perawatan wajahnya. Karena Eka tidak berhasil memulihkan penglihatannya, Fandi merasa bertanggung jawab untuk menikahinya dan mendampinginya dalam penderitaan.

Sementara di Jakarta, Marisa yang hidup dalam kumparan dendam dan kebencian, memaksakan diri menikah dengan Ardi, atasannya di perusahaan tempatnya bekerja. Meskipun Ardi sangat mencintainya, Marisa tidak dapat membalas cinta suaminya. Karena cintanya telah terlanjur diberikan kepada pamannya. Dan karena alasannya menikah dengan Ardi semata-mata untuk mengumpulkan modalagar dapat membalas dendam kepada ibu angkatnya, dengan jalan menghancurkan perusahaannya.

Rumah tangganya makin terguncang ketika Paman Fandi kembali ke Jakarta. Sementara suaminya terlibat kasus manipulasi di kantor. Dan Bondan muncul kembali ketika Marisa kembali ke kampong tempat kelahirannya… bersama seorang laki-laki lain… yang menyingkapkan rahasia yang telah lama terkubur…

Tinggalkan komentar

Filed under Koleksi novel, Pengarang Indonesia

Sekelam Dendam Marisa – 1


Judul buku:Sekelam Dendam Marisa – 1
Penulis:Mira W.
Penerbit:Alam Budaya
Cetakan:Pertama,1991
Tebal:160 halaman
ISBN:

Paman Fandi tidak kembali seperti yang diharapkan Marisa. Dia menikah dengan Eka. Dan tinggal di Monikendam, sebuah desa yang cantik, beberapa kilometer di sebelah utara Amsterdam, tempat Eka menjalani perawatan wajahnya. Karena Eka tidak berhasil memulihkan penglihatannya, Fandi merasa bertanggung jawab untuk menikahinya dan mendampinginya dalam penderitaan.

Sementara di Jakarta, Marisa yang hidup dalam kumparan dendam dan kebencian, memaksakan diri menikah dengan Ardi, atasannya di perusahaan tempatnya bekerja. Meskipun Ardi sangat mencintainya, Marisa tidak dapat membalas cinta suaminya. Karena cintanya telah terlanjur diberikan kepada pamannya. Dan karena alasannya menikah dengan Ardi semata-mata untuk mengumpulkan modalagar dapat membalas dendam kepada ibu angkatnya, dengan jalan menghancurkan perusahaannya.

Rumah tangganya makin terguncang ketika Paman Fandi kembali ke Jakarta. Sementara suaminya terlibat kasus manipulasi di kantor. Dan Bondan muncul kembali ketika Marisa kembali ke kampong tempat kelahirannya… bersama seorang laki-laki lain… yang menyingkapkan rahasia yang telah lama terkubur…

Tinggalkan komentar

Filed under Koleksi novel, Pengarang Indonesia

Keselamatan Fasilitas Operasi Kereta Api


Judul buku:Keselamatan Fasilitas Operasi Kereta Api
Penulis:Hermanto Dwiatmoko
Penerbit:Kencana Prenada Media Group
Cetakan:Ke-1, Juli 2013
Tebal:xvi + 292 halaman
ISBN:978-602-7985-31-5

Transportasi kereta api telah diakui sebagai moda transportasi yang lebih aman dan efisien untuk mengangkut penumpang dan barang. Faktor keselamatan perkeretaapian menjadi sangat penting karena berkaitan dengan kredibilitas dan akuntabilitas publik serta keselamatan jiwa para penumpang.

Buku Peran Prasarana dalam Peningkatan Keselamatan Perkeretaapian ini terdiri dari dua buku. Buku satu membahas tentang “Keselamatan Jalur dan Bangunan Kereta Api”, dan buku dua membahas tentang “Keselamatan Fasilitas Operasi Kereta Api”.

Dalam buku dua ini dibahas secara komprehensif tentang standar teknis fasilitas operasi kereta api, yaitu standar teknis yang ditetapkan oleh pemerintah selaku regulator yang digunakan sebagai dasar bagi Badan Usaha Penyelenggara Prasarana Perkeretaapian dan para pemangku kepentingan lainnya dalam pembangunan prasarana perkeretaapian.

Buku ini juga membahas pengujian, perawatan, dan pemeriksaan fasilitas operasi kereta api yang dapat digunakan sebagai referensi bagi penguji dan operator prasarana perkeretaapian dalam upaya meningkatkan kelaikan jalur dan bangunan kereta api.

Buku ini juga menguraikan tentang pembangunan fasilitas operasi kereta api yang diharapkan dapat digunakan sebagai pedoman bagi para pelaksana pembangunan fasilitas operasi kereta api di lapangan.

Tinggalkan komentar

Filed under Koleksi buku, Lain-lain

Mendengar Nyanyian Sunyi


Judul buku:Mendengar Nyanyian Sunyi
Penulis:Urfa Qurrota Ainy
Penerbit:CV. Halaman Indonesia
Cetakan:Pertama, Juli 2019
Tebal:xxiv + 179 halaman
ISBN:987-602-0848-49-5

Ada sejumlah perjuangan introver yang tidak diketahui banyak orang. Misalnya, perjuangannya saat harus berbicara di depan banyak orang, saat harus menyapa orang takdikenal, saat harus berpura-pura menikmati pesta, juga saat harus mempertahankan konsep dirinya di tengah interaksi yang terfasilitasi dengan mudah oleh media sosial.

Sederet stigma dikenakan pada introver. Misalnya, pemalu, antisosial, egois, pemurung, tidak bisa bahagia. Itu terjadi hanya karena introver melekat dengan kesendirian dan kesunyian.

Terdiri dari 65 tulisan yang terbagi ke dalam tiga bagian besar, buku ini merangkum sekelumit cerita yang dialami introver saat berhadapan dengan perjuangan-perjuangan itu dan mengajak pembacanya menjelajah di ‘ruang angkasa’ dalam kepala intorver.

Buku ini menyuarakan kesunyian yang sering dianggap tak berguna, dicap sebagai keanehan, dan dinilai sebagai sesuatu yang tidak menarik. Buku ini ingin menunjukkan bahwa kesunyian bisa menjelma menjadi nyanyian merdu nan menyentuh kalbu jika didengarkan dengan hati. Maka dengarkanlah nyanyian ini dengan segenap hatimu.

Tinggalkan komentar

Filed under Koleksi buku, Lain-lain